Curahan Hati Wanita Muslimah yang Berjilbab, Sungguh Sedih

Bicara Wanita - Curahan hati wanita muslimah yang berjilbab. Terkadang aku merasa heran dengan mereka. Ya , mereka yang senantiasa bertanya dan bertanya tentang diri ku. Tentang jilbab yang ku kenakan. aku dianggapnya aneh. Dan tentu mereka mengganggap pakaian yang ku kenakan ribet, kolot, dan tentu akan mengungkung kebebasanku.
Curahan Hati Wanita Muslimah yang Berjilbab
ilustrasi. Kaskus.id

Curahan hati wanita muslimah yang berjilbab, ini ku tulis dan sebarkan ke dunia agar mereka paham dan mengerti kecamuk dalam relung 'jiwa ku'. Sebenarnya saya tidak mau mengatakan ini sebagai kecamuk apalagi 'cambuk'. Namun, semoga ini menjadi kecamuk dan cambuk bagi mereka yang 'lalai' dan 'lari' tak mau tahu tentang jilbab ini.

Saya ingin Taat, Maka Bantu Saya untuk Tetap Taat

Jilbab yang ku kenakan ini, bukan untuk siapa-siapa. Dan bukan untuk mengikuti 'trend' berbusana muslimah yang hanya sekedar mengejar fashionable. Jilbab yang ku kenakan ini adalah keinginan ku untuk taat pada Rabb ku, pada Allah SWT. Bukan kepada yang lain.

Meski pada awalnya aku merasakan sendiri susah. Namun, begitulah ketaatan. Akan selalu dihiasi oleh duri dan onak di tengah dan sekelilingnya. Selain onak dan duri, jalannya pun berliku dan memiliki banyak lorong. Dan tentu, aku ingin  berada pada jalur yang benar. Jalur yang benar bagi seorang muslimah adalah menutupi dirinya dengan jilbab. 

Aku ingin taat. Maka, bantulah aku untuk taat. Jangan mencibir aku. Karena aku pun sangat menginginkan engkau saudariku untuk memakai pakaian ini. Pakaian yang telah diwajibkan Allah pada kita.

Jilbab yang Kukenakan Bukan tanda Kesempurnaanku

Sering aku mendengar dan risih. Banyak yang mengaitkan antara jilbab dan perilaku. Ya, tentunya ada korelasinya. Namun, saya hanya ingin anda tahu bahwa ia pun sebenarnya terpisah.

Berbuat baik itu tidak mesti menunggu sempurna. Karena memang hidup kita tidak sempurna. Kita manusia yang lemah, bisa dipenuhi cacat dan tentunya kita tidak akan pernah menjadi baik kalau menunggu menjadi pribadi 'sempurna'.

Jilbab yang ku kenakan bukan tanda aku sudah lolos dengan semua ujian. Bukan tanda bahwa aku telah mampu melewati segala halang rintang. Jika aku dengan jilbabku pernah tersilap kata-kata yang menyakiti, itu bukan berasal dari jilbab yang ku kenakan. Itu murni dari ketidak mampuan ku menjaga lisan pada waktu. Itu datang dari kelalaian ku menjaga perkataan pada waktu itu. Aku hanya terus berusaha menjadi baik.

Bukti bahwa aku masih terus menjadi orang yang baik adalah dengan mengenakan jilbab ini. Anda perlu tahu, bahwa jilbab bukan puncak dari kebaikan itu. Namun, ia adalah bagian dari kebaikan itu. Masih banyak kebaikan yang lain. Tapi, kita harus tahu bahwa jilbab itu adalah kewajiban.

Jangan hardik aku. Nasehati aku jikalau perilaku ku kurang baik. Ukuran kebaikan itu adalah timbangan syariah. Jilbab menjadi baik, karena di dalam agama ini itu kewajiban. Allah SWT muliakan wanita. Bentuk dan cara untuk memuliakannya adalah dengan jilbab ini.

Sekali lagi, kami bukan yang sempurna menjalankan agama ini. Jilbab ini adalah proses bagi kami menuju kesana. Jilbab ini adalah dasar bagi kami untuk meraih taat-taat yang selanjutnya.

Kami senang dengan kata cantik, Tapi Taat itu Lebih Penting

Kami adalah wanita. Kami senang kata cantik. Kami senang dipuji sebagai yang cantik. Kami bisa terhenyak tanpa sadar jikalau di daulat sebagai yang tercantik.
Tapi, aku sadar penilaian cantik itu bukan semata dari manusia. Lebih mulia dan hakiki jika cantik itu dalam taat. Saya pun yakin, pria mana yang tidak suka kecantikan. Namun, taat itu lebih utama.

Kami berjilbab bukan menutupi kecantikan kami. Kami hanya ingin, kecantikan kami tidak dilihat atau bahkan diumbar kepada seluruh pria yang kami temui. Kami memang senang dipuja, namun saya memilih untuk taat. Saya ingin disenangi dan dicintai Allah SWT, Tuhan manusia. Saya tidak ingin dipuja dan dipuji oleh manusia, namun dibenci oleh Allah SWT.

Saya pun menerima logika ini, bahwa aurat yang kita umbar membuat harkat dan martabat wanita yang telah ditinggikan menjadi turun, jatuh bahkan terprosok sampai bagian terjauh dan terbawah.

Jilbab ini Bukan Penghalang, Tapi Saya masih Bisa Memilih

Jilbab yang ku kenakan ini, bukan penghalang. Perintang, bagi karir dan mungkin kebebasan ku. 
Saya memang melihat realita dunia ini, menghendaki wanita seperti saya untuk membuka aurat. Karir yang cemerlang atau menjadi public figure biasanya membuat kami sebagai wanita terhalang. Tapi, saya mau mengatakan prinsip saya bahwa itu bukan penghalang. Ia hanya persoalan pilihan.

Pilihan taat memang ada hambatan. Namun, terkait karir saya yakin bahwa seluruh makhluk yang ada di dunia ini, Allah SWT telah tetapkan rezekinya. Quota rezeki kita telah ada. Allah wajibkan untuk mencarinya dengan bekerja. Namun, kita diberi hak oleh Allah SWT untuk memilih 'cara' untuk menggapai rezeki kita.

Ada jalan halal dan tentu ada jalan yang haram. Saya, anda dan kita yang memilih. Terkait jilbab yang ku kenakan dengan karir atau pekerjaan ku, maka aku memilih tetap mengenakannya. Mungkin, aku bekerja hari ini.  Saya berkomitmen untuk mengenakannya di tempat kerja.

Toh, pada nantinya amalan terbaik ku adalah menjadi istri bahkan ibu yang Insya Allah shalihah.

Jilbab ini tidak pula mengekang kebebasan ku. Bebas bukan berarti memperturutkan hawa nafsu. Saya pun tahu, bebas yang mereka maksud adalah mengikuti gaya fashion Barat. Saya mau katakan itu bukan bebas, namun ia adalah bentuk penjajahan.

Kita dijajah dengan pakaian. Sadar tidak bahwa mereka ingin menjual diri kita bagai barang. Barang bagus dinilai dari tampilannya. Ia laku jika cantik. Namun,saya dan engkau saudari ku bukan barang. Kita manusia. Bukan semata dinilai dari bentuk fisiknya. Namun, kita menjadi berharga dengan pikiran, ide, sumbangsih dan martabat kita.

Ketika Baligh bukan Ketika Baik

Jilbab yang ku kenakan aku pakai karena aku sudah baligh. Sudah sampai akal ku untuk segala perbuatan yang ku lakukan menjadi tanggung jawab ku nantinya di akhirat untuk menjawabnya.
Jilbab yang ku kenakan ini adalah kewajiban. Ia tidak mesti melihat efek manfaat bagi hidup ku. Saya tahu, bahwa dalam Islam pakaian itu tidak memiliki illat

Kewajiban menutup aurat dimulai ketika kita sudah baligh, bukan menunggu saat kita baik :)

Jadi, aku sadar semuanya dalam proses.

****
loading...
  1. Sangat super ukhty, dan tetap istiqomah ya

    BalasHapus