Muslimah Menikahlah ! Agar Jiwamu Tentram

Muslimah, menikah adalah perkara yang biasanya tidak mudah bagi sebagian wanita. Pasalnya, persiapan pernikahan harus sedemikian rupa, harus sedemikian banyak syarat, harus sedemikian mewah sehingga berujung kepada sedemikian rumitnya sebuah pernikahan.
Muslimah Menikahlah ! Agar Jiwamu Tentram

Menikahlah. Sebuah anjuran dari Rasulullah SAW bagi ummatnya. Pemuda-pemudi terutama. Bukan tanpa alasan, rentang umur muda merupakan puncak dari kekuatan tubuh dari manusia. Awal kematangan segala organ seksual dalam diri manusia. Masa berfungsi paling optimal organ sekretori, yakni kelenjar hormonal tubuh manusia. Hormon adalah senyawa kimiawi tubuh yang bisa mempengaruhi kinerja fisiologis hingga psikologis manusia.

Rasulullah menganjurkan kepada pemuda-pemudi untuk menikah dalam usia muda. Bahkan, dalam pemilihan wanita yang akan dinikahi, Rasulullah SAW menganjurkan untuk menikahi wanita yang masih perawan dibandingkan dengan wanita yang telah janda. Secara medis, wanita yang masih perawan memiliki kondisi rahim yang masih kuat dan optimal. Menambah kebahagiaan bagi pasangan suami istri.

Mengapa menikah dapat menentramkan jiwa?

Wahai wanita, muslimah. Dalam diri manusia, sudah menjadi ketentuan Allah SWT bahwasanya terdapat naluri atau gharizah dalam penciptaannya. Ada tiga naluri dalam diri manusia, salah satunya adalah naluri melanjutkan keturunan.

Naluri melanjutkan keturunan dalam diri manusia, berwujud pada penampakkan adanya rasa suka, tertarik dan kecenderungan kepada lawan jenis. Inilah hal yang membuat, mengapa anda bisa jatuh hati dengan seseorang.

Naluri dalam diri manusia itu sifatnya menuntut untuk dipuaskan. Menuntut dipenuhi keinginannya. Islam datang mengatur manusia, termasuk cara mengatur bagaimana naluri itu dipuaskan. Syariah telah menganjurkan cara pemenuhan naluri melanjutkan keturunan melalui pernikahan. Bukan yang lain. Termasuk zina dan pacaran. Keharamannya jelas.

Fenomena banyaknya remaja yang pacaran, salah satu karenanya adalah faktor internal dalam dirinya yang mencari pemenuhan naluriah. Jika tidak dipenuhi, maka akan muncul kekosongan dalam relung jiwanya. Ia akan merasakan kehampaan yang begitu dalam jika ia tidak mengisinya dengan kasih sayang dari lawan jenisnya. Walaupun ia kenyang dengan makanan dan minuman yang tersedia, sesungguhnya itu tidak akan bisa mengobati nestapa yang dirasakan jiwanya. Seperti itulah kondisi internal dalam diri setiap pemuda dan pemudi.

Sehingga tanpa ada komando pun, remaja yang punya pemahaman yang lemah dan kurang terhadap aturan Allah SWT dalam pergaulan akan menempuh jalan pacaran untuk memenuhi kebutuhan naluri ini. 

Wahai muslimah, kondisi internal inipun akan menerpa anda. Walaupun anda tidak melakukan aktivitas pacaran, namun naluriah itu akan menuntut untuk dipenuhi. Ia akan menjadi tenang jika telah dipenuhi.

Pemenuhan yang benar, tentu sesuai anjuran Islam. Menikah sesuai syariah, aturan Allah SWT dan RasulNya. Ketentraman hati, naluriah yang dicapai lewat jalan ini bukan sembarang kententraman. Namun,  ketentraman yang juga lahir karena memenuhi perintah Allah SWT.

Jika anda yang masih pacaran, maka segeralah hentikan aktivitas ini. Memang hati anda tentram dengan lawan jenis anda, namun sebenarnya anda telah berbuat dosa. Putar haluan sedikit, putuskan hubungan dosa ini dan belajar ilmu dan pemahaman Islam bagaimana cara mempersiapkan diri dalam jenjang pernikahan yang penuh ridha Allah SWT.

Tentramnya jiwa. Teduhnya hati. Senangnya perasaan. Semua berasal dari terpenuhinya kebutuhan jasadiyah maupun naluriah manusia. 

Telah dijadikan dalam diri manusia, indah matanya terhadap wanita begitupun sebaliknya wanita terhadap laki-laki. Saling melengkapi dalam kekurangan, saling mengerti dalam kelemahan, dan saling mencintai terhadap apa yang diketahui dalam pasangannya.

Rumahku, Istanaku.

Pernikahan pada akhirnya akan membentuk rumah tangga. Awalnya adalah rumah tangga kecil kemudian bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga; anak dan istri.

Rumah ini akan menjadi istana bagi siapa saja yang berada di dalamnya, jika rumah tangga yang dibangun berasal dari rumah tangga yang dibangun lewat pernikahan yang syar'i. Mengaharap ridha Allah SWT. Di dalamnya, suami istri, anak orang tua bersama-sama satu tujuan beribadah kepada Allah dengan segala bentuknya.

Rumah menjadi tempat peraduan mereka. Tempat mereka melepas segala kerinduan. Tempat mereka mencurahkan segala keresahannya. Tempat mereka mendapatkan solusi dari pasangannya.

Gambaran seperti ini bisa kita contoh dalam rumah tangga Rasulullah SAW. Disaat Rasulullah SAW berada dalam kondisi berat. Sangat berat karena mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Beliau meminta kepada istrinya, Khadijah untuk menyelimuti beliau guna mendapatkan ketenangan.

Gambaran lain juga kita bisa contoh bagaimana Rasulullah SAW menjadikan rumahnya sebagai tempat melepas penatnya. Rekreasinya. Lihatlah, betapa indahnya Rasulullah SAW dan istrinya Aisyah yang bermain kejar-kejaran. Hebatnya dukungan istri dalam kehidupannya.

Betapa, indah dan tentram pernikahan itu. Membentuk rumah tangga. Terbentuk istana cinta tempat memadu kasih sayang penghuninya. Kasih sayang yang berasal dan berlandaskan pada ridha Allah SWT.

Posting Komentar

Berilah komentar atau masukan yang baik. Komentar anda akan terbit jika sudah disetujui admin.