Pandangan Orang Romawi terhadap Wanita (Masa Jahiliyah)


Pandangan Orang Romawi terhadap Wanita (Masa Jahiliyah)
Ilustrasi
Pandangan Orang Romawi terhadap Wanita (Masa Jahiliyah) - Wanita sebelum Islam datang, ditempatkan pada kedudukan yang rendah oleh peradaban dan klaim kemajuan budaya umat manusia. Di peradaban manapun, kecuali Islam, wanita ditempatkan sebagai obyek; budak, pelayan dan pemuas nafsu lelaki saja. Setelah Islam datang, kedudukan wanita dikembalikan pada fitrahnya yang mulia dalam tatanan norma keluarga dan masyarakat sesuai aturan yang digariskan Allah SWT. Wanita; sebagai anak, istri dan ibu memiliki kemuliaannya masing-masing.

Wanita muslimah. Di Romawi pun tak jauh beda, posisi wanita tetap sangat rendah. Menurut pandangan masyarakat Romawi wanita ada pada kekuasaan bapak jika belum nikah, dan berpindah pada kekuasaan suami saat telah nikah. Kekusaan di sini bersifat mutlak. Maka dari itu, seorang bapak atau ayah berhak untuk menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh anak wanitanya atau istrinya. Tentu ini terbilang cukup sadis untuk ukuran sekarang.


Bangsa Romawi dianggap sebagai bangsa yang paling maju setelah Yunani. Namun bila kita cermati, undang-undang dan sistem sosial mereka ternyata sangat menzolimi, mengucilkan, dan menindas kaum wanita. Bangsa Romawi memandang wanita sebagai orang yang tidak memiliki ruh, tidak berharga, dan tidak memiliki hak. Oleh karena itu, wanita pada masa itu disiksa dengan disiram minyak mendidih ke sekujur tubuhnya dan diikat di tiang. Bahkan, wanita yang tak berdosa diikat  pada ekor kuda, lalu kuda dilarikan dengan cepat sampai mereka mati.

Ketika peradaban dan kebudayaan bangsa Romawi mulai berkembang, penindasan mulai berkurang, tetapi pelecehan terhadap wanita dan memperlakukan wanita seperti pelayan, budak dan sebagai pemuas nafsu syahwat laki-laki. Pada akhirnya, kemesuman dan pencabulan merebak di mana-mana.

Celakanya, peraktek kemesuman dan pencabulan ini masih selalu di peraktekan, hanya saja dibungkus dengan istilah-istilah yang mengatasnamakan keterbukaan, modernisasi, atau pembaharuan.

Dan kebiasan bercerai karena alsan sepele, sehingga angka perceraian begitu tinggi. Bahkan karena begitu merebaknya angka perceraian, hal ini membuat para wanita mereka mudah berganti-ganti pasangan tanpa rasa berdosa dan rasa malu. Anehnya lagi ada wanita dalam waktu yang bersamaan menikahi 23 suami. Kemerosotan akhlak ini yang membuat bangsa Romawi hancur. Semua ini tidak lain karena mereka telah tenggelam dalam syahwat kebinatangan yang tidak layak dilakukan oleh manusia, kecuali binatang.
loading...

Posting Komentar