Ibu R. A. Kartini bukan Pahlawan Wanita Indonesia Ibu R. A. Kartini bukan Pahlawan Wanita Indonesia | Bicara Wanita

Ibu R. A. Kartini bukan Pahlawan Wanita Indonesia

Ibu R. A. Kartini bukan Pahlawan Wanita Indonesia-Mungkin susah untuk mendapat gelar pahlawan. Apalagi menjadi pahlawan dalam satu bangsa, dan lebih susah lagi menjadi pahlawan wanita dalam satu bangsa atau negara.

Perlu banyak kerja keras, kerja nyata, kerja yang luar biasa, pengorbanan luar biasa, hasil karya yang luar biasa dan bermanfaat untuk menjadi pahlawan.

Dalam situs wikipedia (yang saya rujuk), Pahlawan (Sanskerta: phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama) adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia. Dalam bahasa Inggris pahlawan disebut "hero" yang diberi arti satu sosok legendaris dalam mitologi yang dikaruniai kekuatan yang luar biasa, keberanian dan kemampuan, serta diakui sebagai keturunan dewa. Pahlawan adalah sosok yang selalu membela kebenaran dan membela yang lemah. (http://biokristi.sabda.org/arti_pahlawan).

Salah satu pahlawan wanita Indonesia yang terkenal adalah Ibu R. A. Kartini. Raden Ajeng Kartini (Ibu Kartini) terkenal dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai pahlawan emansipasi. Pahlawan wanita yang katanya 'dengan berani memperjuangkan hak-hak wanita yang terkungkung' pada waktu itu. Kartini menjadi ikon dan simbol 'kemandirian' wanita. Padahal di saat kita mau berpikir jernih, Kartini hanyalah alat yang dijadikan alat untuk mempropagandakan 'kesataraan jender' oleh kaum imperialis Barat di Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”.  Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih R.A Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University. Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia.

Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini  berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP).  Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai  perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan  Etika” C.Th. van Deventer adalah  orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Fakta-fakta lain :

Semasa hidupnya, Kartini hanya melakukan surat-menyurat (korespondensi) yang kental dengan wacana pluralisme, kebatinan dan sejenisnya. Sebenarnya, tidak ada nilai lebih yang bisa dibangakan dari seorang Kartini selain opini yang dikembangkan bahwa ia ingin mengangkat harkat dan derajat wanita di jamannya.

Tokoh Kartini ini pulalah yang kini dijadikan sebagai penyemangat perjuangan kesetaraan gender. Kalangan Liberal menjadikannya sebagai ikon.

Gambar Ibu R. A. Kartini :
raden-ajeng-kartini

Munculnya, wacana dalam sejarah dan sampai sekarang masih diyakini bahwa Ibu R.A.Kartini adalah pahlawan emansipasi wanita tidak lain hanya ditunggangi oleh kepentingan kaum imperilais Barat untuk tetap menjajah bangsa Indonesia lewat pemikiran feminisme dan kesataraan jender. Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan, dan kesetaraan jender.
Refleksi perjuangan Kartini saat ini sangat disayangkan karena banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat sebagai wanita. Tanpa disadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan feminisme dengan membawa ide-ide sistem kapitalisme yang pada akhirnya merendahkan dan menghinakan derajat wanita itu sendiri.

Sistem kapitalisme sejatinya telah menghancurkan kehidupan manusia, termasuk kaum hawa (perempuan). Akibat diterapkan sistem kapitalisme, terjadi himpitan ekonomi sehingga tidak sedikit perempuan lebih rela meninggalkan suami dan anaknya untuk menjadi TKW, misalnya, meskipun nyawa taruhannya. Ribuan kasus kekerasan terhadap mereka terjadi. Mereka disiksa oleh majikan hingga pulang dalam keadaan cacat badan, bahkan di antaranya ada yang akhirnya menemui ajal di negeri orang. Sebagaimana yang dialami derita seorang TKW asal Palu, Susanti (24 tahun), yang kini tak bisa lagi berjalan karena disiksa majikannya (Liputan6.com, 9/3/2010).

1 Response to "Ibu R. A. Kartini bukan Pahlawan Wanita Indonesia"

  1. r.a kartini itu pahlawasn kebatilan,,mengajak wanita untuk menyalahi kodratnya,,,tempat kartini sekarangpun ada di neraka,,begitu pun pengikutnya,dia bukannya mengajak para wanita agar patuh dengan ajaran islam,,malah sebaliknya

    ReplyDelete